Klik Disini
BREAKING
Showing posts with label Berita Terbaru 2016. Show all posts
Showing posts with label Berita Terbaru 2016. Show all posts

Monday, 18 January 2016

Bekas Kepala Gudang Bulog Madura Divonis 12 Tahun Penjara


JAWATIMURPOST - Mantan Kepala Gudang Bulog Subdrive XII, Madura, Kadiono, yang didakwa kasus korupsi pengadaan beras fiktif sebanyak 1.504 ton, divonis kurungan penjara selama 12 tahun, denda Rp 200 juta dan subsider 2 bulan kurungan.

Selain itu, terdakwa diharuskan mengembalikan kerugian negara sebesar Rp 12 miliar. Jika dalam rentang waktu dua bulan, tidak bisa mengembalikan kerugian negara, seluruh harta bendanya disita dan ditambah kurungan 3 tahun. Begitu juga, bilamana tetap tidak bisa membayar denda, selama dalam tahanan terdakwa tidak memperoleh hak remisi.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Pamekasan, Toto Sucapto yang dihubungi melalui Kasi Pidus Kejari, Pamekasan, Agita Tri Moertjahjanto, Minggu (17/1/2016) mengatakan, sidang putusan yang dipimpin majlis hakim Martua Ramli, digelar di Pengadilan Tipikor Surabaya, Jumat (15/1/2016) petang lalu.

Menurut Agita Tri Moertjahjanto, meski putusan itu lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntutut umum (JPU) yang sebelumnya menuntut terdakwa selama 13,5 tahun, namun hukuman ini sudah pantas dijatuhkan kepada terdakwa Kadiono. Sebab, selama persidangan terdakwa tidak koperatif, tidak berterus terang dan terkesan tidak mau mengakui perbuatannya.

"Kami tidak menyangka, hakim akan menjatuhkan vonis kepada terdakwa selama 12 tahun. Dan vonis hakim ini tidak seperti biasanya. Sebab JPU menuntut terdakwa selama 13 tahun, biasanya hakim akan menjatuhkan vonis antara 9 atau 8 tahun," kata Agita Tri Moertjahjanto.

Dikatakan, atas putusan ini, terdakwa dan kuasa hukum mengajukan banding, karena putusan yang dijatuhkan itu dinilai terlalu berat dan tidak sebanding dengan apa yang diperbuat terdakwa. Sedang JPU masih akan piker-pikir dulu.

Sementara itu, N Tarigana, kuasa hukum Kadiono, menyatakan tidak terima terhadap putusan yang dijatuhkan kepada kliennya. Putusan itu dianggap tidak memberikan keadilan bagi terdakwa. Sebab hilangnya beras sebanyak 936 ton itu, jabatan Kepala Gudang Bulog dipegang Abdullatif. Dalam putusannya hakim menimpakan semua kesalahannya pada kliennya.

“Hilangnya beras itu, terjadi sebelum klien kami (Kadiono.Red) menjabat Kepala Gudang Bulog. Ini yang tidak adil, sehingga kami mengajukan banding,” kata N Tarigana.

Seperti diberitakan, terdakwa Kadiono, dituntut hukuman 13,5 tahun penjara dan denda Rp 500 juta, subside 5 bulan kurungan. Selain itu, diharuskan membayar uang pengganti sebesar Rp 12 miliar. Jika dalam rentang waktu satu bulan, Kadiono tidak membayar, maka seluruh harta kekayaannya disita atau hukumannya ditambah 6 tahun 8 bulan.


Sumber : LINTASMADURANEWS

Sunday, 17 January 2016

Kepada Ad-Dakhil: Merayakan Ultah Tak Sebercanda Meniup Lilin!


Oleh Latif Fianto


Bagaimanakah seharusnya perayaan hari lahir itu dimaknai?

Sepertinya pertanyaan itu terdengarsedikit konyol. Bagaimana tidak, kita semua tahu, setiap kali perayaan hari lahir, orang-orang riuh menyenandungkan lagu "Happy Birthday to You", atau ramai-ramai melantunkan lagu "Selamat Ulang Tahun". Lantas, dengan senyum dan mata memeram, bibir meniup nyala lilin. Yang terjadi kemudian adalah tawa yang membuncah sambil memotong kue tar.

Apakah sesederhana itu?

Ternyata perayaan Hari Lahir atau kita akrab menyebutnya Ultah, itu tak sebercanda meniup lilin dan memotong kue tar. Hehehe

Mari kita renungi, saya akan mencoba belajar membukakan pintu dengan menuliskan jalan itu menuju refleksi. Bukan tentang sumpah pemuda, sumpah mahasiswa atau tentang para pejuang di masa lalu, tapi ini mengenai perayaan hari lahir lembaga kita, Rayon Ad-Dakhil yang ke- 5.

Ad-Dakhil, sang penakluk, diambil dari nama lain (Alm) K.H. Abdurrahman Wahid, presiden Republik Indonesia yang keempat. Seorang penakluk, ia tidak mungkin tidur, pulas berbantal khayalan, berselimut kemalasan. Seorang penakluk bukan seekor anjing, yang menggonggong, melolong, lalu bila diberi tulang, diam, tidur dengan perut kekenyangan. Tapi seorang penakluk, ia adalah singa. Ia tak terlalu banyak suara, kakinya mantap melangkah maju ke depan. Sorot matanya menyimpan ambisi dan cita-cita besar. Seringkali ia diam, tapi ia seorang raja, raja rimba.

Lalu, bagaimanakah dengan Ad-Dakhil kita?

Pertanyaan itu masih belum kita jawab. Kalau pun mau dijawab, tak perlu ditulis atau diurai di dinding-dindingfacebook, twitter, BBM, atau berteriak congkak, itu pun dilakukan di dalam tempurungnya. Tak perlu. Kita cukup membuktikannya dengan kinerja-kinerja kreatif, produktif dan tentu prestatif.

Apakah itu sudah kita lakukan?

Saya tak sedang berusaha berceramah mengenai apa yang baik dan bagaimana seharusnya mengelola organisasi atau menjadi kader militan di PMII. Cukup terjemahkan saja Tri Motto PMII ke dalam kehidupan nyata, itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi kader PMII yang berkualitas dan militan. Ini pun bukan kata saya, melainkan mengais kembali ingatan isi ceramah Abdullah Syam, penceramah yang didatangkan dari Pesantren Rakyat, Malang Selatan, di malam Perayaan Hari Lahir Rayon Ad-Dakhil (16/01).

Lantas, untuk apa kita merayakan hari lahir Rayon Ad-Dakhil? Apakah sekadar untuk menaikkan great gengsi?

Membaca pertanyaan ini, tentu banyak kepala yang akan menggeleng. "Ini bukan soal gengsi, simbol atau hanya seru-seruan belaka", mungkin itu jawaban yang akan terdengar. Mari kita amini saja. Apa pun motifnya, perayaan hari lahir adalah sesuatu yang sakral. Semoga kita tidak terjebak pada ritual belaka. Merayakan hari lahir adalah bentuk apresiasi kita, bentuk penghargaan kita pada Tuhan, pada organisasi tempat kita bernaung dan menimba ilmu, meskipun buahnya belum tentu kita panen saat ini juga. Namun, apapun makanan dan minumannya, poin penting dari perayaan hari lahir adalah refleksi, introspeksi, proyeksi dan ekspektasi akan masa depan.

Karenanya, dalam rangka melakukan refleksi, dalam tulisan sederhana ini saya ingin menghadirkan rumusan pertanyaan K.H. Toto Tasmara, penulis buku Membangun Etos Kerja Islami, untuk menjadi bahan refleksi kita di hari lahir Ad-Dakhil yang ke - 5 ini. Dan penjelasan dari jawabannya, sekali lagi, tak perlu diumbar, cukup dibuktikan saja dengan kinerja nyata di setiap lembar-lembar kerja organisasi.

Pertama, know who are you. What is your strengths and your weaknesses. Terjemahan bebasnya kira-kira begini, ketahui siapa dirimu, kekuatan dan kelemahanmu. Ini mirip analisis SWOT saat kita hendak melakukan rapat kerja di awal kepengurusan. Namun, analisis seperti ini harus dilakukan setiap waktu, bukan hanya saat sedang ketika hendak melakukan rapat kerja. Hal ini baik untuk terus melakukan upgrading terhadap kinerja, keilmuan dan tentu untuk produktivitas kerja kita di tubuh organisasi.

Kedua dan ketiga, know your job, know your competitor and your partner. Kita harus tahu, apa pekerjaan dan peran yang diemban, dan perlu tahu, siapa pesaing dan dan teman, sahabat atau kawan kita.
Sampai pada jawaban untuk rumusan pertanyaan ini, kita sudah benar-benar memahami siapa yang lawan, siapa yang kawan. Namun, tersebab ego, ramuan politik dan bahkan ambius dalam merebut kekuasaan, kerap kali lupa dan mungkin sengaja dilupakan, siapa teman, siapa sahabat, siapa kawan dan siapa lawan. Peran dan kerja menjadi absurd. Tak jarang kita mendendam pada sahabat sendiri. Tak sekali dua kali kita mengusir sahabat sendiri dari arena diskusi.

Kejelekan masing-masing pengurus yang tidak disukai diumbar di laman facebook, status di BBM, dan bahkan yang sangat disayangkan, bagaimana bila lawan politik kita yang secara ideologi berbeda, menggunakan momen tersebut untuk memporak-porandakan lembaga PMII. Karenanya, setiap pribadi perlu tahu porsi peran, tugas dan tanggungjawabnya. Bisa dikatakan, mereka yang saling menjelek-jelekkan sesama pengurus, mengumbar kelemahan dan kebejatan lembaganya di ruang-ruang umum adalah mereka yang tidak dewasa dalam berorganisai, tak punya tanggung jawab, dan perlu diupgrade pemahamannya mengenai organisasi.

Keempat dan kelima, know your company and your goal, know your product. Rayon Ad-Dakhil adalah lembaga yang bergerak di ranah fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Di dalamnya ada Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Komunikasi. Dua keilmuan yang apabila dikembangkan akan mewarnai khazanah intelektualitas kita di tubuh PMII. Dua keilmuan itu harus menjadi titik fokus utama sebelum mengembangkan keilmuan atau kreativitas lainnya.

Setiap pribadi, lembaga, ataupun perusahaan tentu memiliki spesialisasi dan spesifikasi tertentu. Ada kelemahan dan kelebihan masing-masing. Yang kelebihan harus terus dipertahankan dan dikembangkan, sementara yang kelemahan harus dijadikan peluang untuk menciptakan kemajuan.

Keenamdan ketujuh, know your customer, know your message. Pemahaman sederhana mengenai ini adalah mengetahui dan memahami siapa relasi kita, apa pesan, situs, jejak, dan kenangan seperti apa yang akan kita cipta di benak setiap orang yang menjadi saksi perjalanan kita di tubuh organisasi.

Sekiranya kita sudah memahami mengenai rumusan pertanyaan ini dan lupa bagaimana menerjemahkannya dalam kehidupan berorganisasi, maka momentum perayaan hari lahir Rayon Ad-Dakhil menjadi momentum yang sangat cocok untuk melakukan refleksi dan introspeksi mengenai apa yang sudah dan akan kita lakukan ke depan.

Sekali lagi, sekalipun anjing berjingkrak-jingkrak menggonggong, melolong memenuhi kolong langit, seekor singa akan tetap melangkah mantap ke depan, bersiap menyergap mangsa, berjuang menyongsong masa depannya. Sebab ia bukan pengecut atau pecundang, tapi ia adalah raja. Ia adalah kader Ad-Dakhil yang sudah ditunggu masyarakat di lingkungan yang lebih besar dan kompetitif, penuh tendensi politis.

Di akhir tulisan ini, semoga tidak melangkahi para ustadz dan kiai bila saya mengutip firman Allah, sebagaimana berikut ini.

"... Ambillah ibarat (tanda-tanda) ini, wahai mereka yang memiliki penglihatan intelektual(al-Hasyr: 2).

Latif Fianto, lahir di Sumenep, pecinta buku, menulis cerpen dan esai, sekarang tinggal di Malang, bergiat di Komunitas Sastra Malam Reboan.


Bom Itu Tidak Meledak, Tapi Masih Menggantung Di Dadamu


Oleh Latif Fianto

Kira-kira ia akan berkata begini, tadi pagi bom meledak di Jakarta, orang-orang menyebutnya Bom Sarinah, temuan terakhir 7 orang tewas. Lalu himbauan datang, jangan pergi ke tempat-tempat mewah, seperti restoran-restoran berlabel atau beraroma Eropa, tempat-tempat begitu jadi incaran empuk sang peneror.

Para orang tua khawatir. Anaknya disuruh berdiam diri saja di rumah. Beberapa dilarang pergi ke kantor tempatnya bekerja. Orang-orang melotot memandangi layar televisi. Berjam-jam berita bom bunuh diri dan baku tembak itu disiarkan begitu mengalir, dari hulu ke hilir. Nyaris tak ada napas untuk sekadar menikmati menu makan siang. Doa-doa dan kedukaan bertengger di berbagai dinding sosial media. Pray for Jakarta, Save Jakarta, katanya begitu beberapa status di dinding Blackberry Messanger.

Para pengamat berujar, bisa jadi itu adalah kelanjutan aksi pengeboman yang sempat menuai luka di Paris, Prancis. Yang lain berkicau, benar-benar biadab para pelaku teror itu. Sebagian yang lain memberikan awas, bisa jadi itu pengalihan isu, belakangan ini pemerintah sedang melakukan komunikasi intim mengenai saham Freeport, agar luput dari perhatian masyarakat, dibikinlah lorong pengalihan perhatian, "Ledakkan bom saja!".

Benar adanya, perhatian masyarakat digiring pada tontonan baru, hangat dan meresahkan. Kini pemberitaan di berbagai televisi menyorot ledakan itu. Beberapa televisi bahkan menyediakan ruang siang selebar-lebarnya mengenai tragedi itu. Mulai dari talkshow, berita yang diulang-ulang, berita investigasi hingga pengamatan-pengamatan spekulif meski ditilik dari berbagai aspek keilmuan. Bisa ditebak, salah satu stasiun televisi akan membuat laporan utama, juga laporan khusus mengenai peristiwa itu, berhari-hari bahkan bisa jadi berminggu-minggu. Media seolah bilang begini kepada konsumennya, "Dalam beberapa hari ke depan ini, kalian tidak boleh berpaling dari berita hot ini!".

Kata orang-orang gerakan yang kritis melihat setiap kejadian, itu adalah bagian polical setting yang dilakukan pemerintah. Sudah menjadi rahasia umum, untuk mencapai suatu target kebijakan politik, agar tak menjadi perhatian masyarakat, pemerintah selalu menyajikan tontonan baru pada mereka yang awam. Lalu di balik podium, orang-orang penting di tubuh negeri ini akan berpidato, seolah-seolah kejadian itu di luar kendali kekuasaan.

Lain halnya dengan mahasiswa Ilmu Komunikasi, mereka akan mengatakan, itu agenda setting, kawan! Tak seharusnya mahasiswa, yang katanya cerdik-cendikia, termakan oleh giringan media. Mahasiswa harus mampu menfilter dan cerdas mengkonsumsi setiap berita yang disajikan media. Pada titik ini, keberadaan literasi, sebagai upaya cerdas memahami konten media perlu dimiliki oleh mahasiswa, dan masyarakat secara umum. Bila tidak demikian, maka teori jarum hipodermik akan benar-benar membuktikan ketajamannya dalam mempengaruhi kognisi khalayak.

Sementara itu, mahasiswa tingkat akhir akan berteriak, bagaimana mau berpikir tentang bom, teror, dan semacamnya, ini skripsi belum kelar. Begitulah kira-kira kata mereka yang masih terseok-seok menyalakan laptop, maksudnya hendak menggarap skripsi, eh taunya menonton film, entah film berjenis apa, absurd.

Ah, alamak! Tak usah lah berpikir tentang bom, urusan perut masih belum selesai ini, kata sebagian kelompok lain. Beberapa orang menengadahkan tangan menggiring amin, semoga Indonesia selalu aman dan terkendali. Tak ada kekerasan, mulai dari yang terbungkus dalam kategori budaya, sosial, ekonomi dan bahkan radikalisasi agama.

Bom itu kan meledak, menggema, riuhlah suara, dari zaman lampau hingga sekarang sifat bom memang begitu. Tak usah lah cemas, banyak-banyak saja mendekatkan diri pada sang Ilahi, seorang gadis bertubuh subur berkata pada seorang lelaki, kekasihnya. Si lelaki menatap mata perempuan itu, lalu berujar dengan penggalan sebuahsajak karya Syarifudin Arifin.

Bom Di Dadamu Itu, Sayang!

Aku hanya tersenyum
melihat dua bom menggantung di dadamu
dan sangat ingin mengigit sumbunya
agar segera meledak

Si perempuan tersenyum manis. Lalu mendekatkan wajahnya, selanjutnya hanya alam yang mengaturnya romantis. Mengenai ledakan bom itu, kini kita sedang menunggu, bagaimana mata dunia mencurahkan perhatiannya pada Indonesia.


Latif Fianto, lahir di Sumenep, pecinta buku, menulis cerpen dan esai, sekarang tinggal di Malang bergiat di Komunitas Sastra Malam Reboan. 

Monday, 4 January 2016

Polri Sinyalir ISIS akan Jadikan Indonesia Basis Kekuatan Militan di Asia


JAWATIMURPOST - Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia menyebut kelompok teroris negara Islam Irak-Suriah (ISIS) diindikasikan akan membuat Indonesia sebagai markas perlawanan ISIS wilayah Asia.


Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan, Sabtu (26/12/2015) menjelaskan penangkapan terduga teroris inisial AL asal Uighur China di Bekasi beberapa waktu lalu, menguatkan indikasi itu.



"Bahwa ISIS ini merupakan jaringan internasional. Dan Indonesia ini akan dijadikan salah satu base camp di Asia Tenggara atau mungkin saja di Asia. Sehingga ada hubungan antara satu negara dengan negara lain. Ini baru dari China, bisa juga belum kita temukan dari negara lain," kata Inspektur Jenderal Anton Charlatan.



Sebelumnya pada Rabu (23/12/2015) Kepolisian Indonesia menangkap dua orang terduga teroris di Bekasi Jawa Barat. Salah satu diantaranya berasal dari etnis Uighur asal China. Beberapa hari sebelumnya, Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror menangkap sembilan terduga teroris di enam kota, yaitu di Tasikmalaya, Banjar, Gresik, Mojokerto dan Sukoharjo.



Anton Charliyan menambahkan, kelompok terduga teroris ini mempunyai hubungan langsung dengan kelompok teroris ISIS di Suriah.



"Kalau yang di Jawa Timur tidak begitu terkait. Tetapi dengan yang di Tasikmalaya maupun yang di Solo ada sedikit kaitannya. Kelompok ini berdiri sendiri dan mempunyai hubungan dengan yang di Suriah. Di bawah pimpinan di Suriah atas nama BN," tambahnya.



AL menurut Anton, adalah satu kelompok dengan dua orang Uighur yang pada pertengahan 2015 ditangkap. Kedua warga Uighur itu sebelumnya berniat untuk bergabung dengan kelompok teroris Santoso di Poso Sulawesi Tengah.



"Ya betul ada kaitannya karena ada beberapa orang yang dari Uighur salah satunya ternyata mereka satu kelompok. Yang satu mungkin ikut ke Poso. Yang dua sudah di tangkap. Yang satu lagi ketangkap di Bekasi (AL). karena yang waktu itu yang satu itu mau gabung dengan Santoso tapi, berhasil kita gagalkan," imbuhnya.



Saasaran teror kelompok ini menurut Anton adalah melakukan penyerangan terhadap kantor instansi Pemerintah di Jakarta. Dengan menjadikan AL sebagai pembom bunuh diri.



"Salah satu namanya AL. AL itu ternyata setelah kita tangkap masih di daerah Harapan Baru Bekasi ternyata orang asing dari Uighur China. Dimana dari yang bersangkutan juga di temukan barang bukti bahwa yang bersangkutan akan menjadi ‘pengantin’. Bahkan ditemukan juga sketsa dari gedung instansi Pemerintah yang mungkin juga akan dijadikan sasaran terror. Ada juga barang-barang lain misalkan juga peralatan seperti switching, pedang dan lain-lain," katanya.



Perayaan Natal dan Tahun Baru menurut Anton akan dijadikan momen aksi teror kelompok ini. Sebagaimana sebelumnya ancaman yang diterima aparat keamanan Indonesia dari kelompok ISIS.



"Mereka bisa saja memanfaatkan momen-momen tersebut. Karena dari awal juga kan mereka sudah mengancam atau memberikan warning pada kita, bahwa di bulan Desember ini mereka akan mengadakan aksi. Nah batas waktu bulan Desember itu kita tidak tau pasti. Namun berdasarkan pengalaman tahun 2000 kita pernah mengalami delapan gereja di bom. Kemungkinan salah satu momen yang dimanfaatkan iu ya momen Natal dan Tahun baru," lanjutnya.



Meski pelaksanaan ibadah Natal berlangsung aman, namun Polri dan TNI serta aparat lainnya tetap melakukan pengamanan ketat semua lokasi khususnya rumah ibadah menjelang dan beberapa hari setelah pergantian tahun.



"Ya kita tetap meningkatkan kewaspadaan. Walaupun ini merupakan kegiatan rutin, tapi mungkin kegiatan rutin yang perlu ditingkatkan. Apalagi dengan adanya warning dari kelompok ISIS. Warning ini bukan tanpa alasan. Yaitu dengan kejadian di Paris yang merupakan suatu hal yang perlu kita garis bawahi. Sehingga dengan demikian kita meningkatkan kewaspadaan lebih tinggi dan meningkatkan kerjasama dengan komponen keamanan lainnya. Termasuk dengan TNI, Pemda, yaitu ada SatpoL PP, dishub, pamswakarsa dan lain-lain," imbuhnya.



Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Saut Usman Nasution mengatakan, untuk saat ini baru dari kelompok Uighur yang masuk ke Indonesia dan sudah bergabung dengan Santoso.



"Sementara ini yang terdeteksi baru dari kelompok Uighur yang sudah jelas masuk. Lima orang sudah bergabung dengan Santoso di gunung. Kita belum temukan," kata Saut Usman.



Saut menjelaskan ada ratusan orang yang bergabung dengan ISIS dan kembali ke Indonesia.



"Ya sekarang sudah 169 di deportasi dari Turki. Ya mereka kembali ke masyarakat, dan ada problem hukum yang kita hadapi. Mereka ini ISIS. Dia bilang keluar dari NKRI. Tapi kita nda bisa mencabut kewarganeragaannya. Dasarnya ga ada. Kita mau kenakan pasal apa? ISIS ini bukan negara. Maka mereka menyebut khilafah yang ga diakui dan gak jelas teritorinya di mana," imbuh Saut.

Sumber : Lintas Madura News

Seekor Lumba-Lumba Terdampar di Pantai Lombang Sumenep


JAWATIMURPOST - Seekor lumba-lumba ditemukan terdampar di Pantai Lombang Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur oleh pengungjung, Minggu (3/1/2016).


Lumba-lumba yang berukuran kurang lebih sepanjang 1 meter tersebut ditemukan sudah mati oleh warga di arah barat panggung utama Pantai Lombang, yang merupakan lokasi wisata bahari di Kabupaten Sumenep.



"Lumba-lumba itu terdampar dalam keadaan sudah mati," kata pengunjung Pantai Lombang, Moh. Ridwan sebagaimana ditulis Okezone, Minggu (3/1/2016).



Menurut Ridwan, terdamparnya lumba-lumba tersebut menjadi pusat perhatian pengunjung yang datang ke lokasi wisata. Bahkan beberapa pengunjung juga sempat mengabadikan gambar lumba-lumba itu.



"Barusan banyak yang ambil gambar lumba-lumba itu, bahkan ada yang selfie bersama lumba-lumba," imbuh Ridwan.



Sementara pantauan di lokasi, ombak di Pantai Lombang masih dalam skala normal. Namun dengan terdamparnya lumba-lumba tersebut warga diminta lebih waspada ketika berenang di pinggir pantai.
Sumber : Lintas Madura News
 
Copyright © 2013 JAWA TIMUR POST
Design by FBTemplates | Distributed by Kaizentemplate.